SYEKH ABDUL SHOMAD AL-PALIMBANI : Biografi dan Ajarannya


A.    Biografi Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani
Riwayat hidup Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani kurang banyak diketahui, karena dalam tulisan-tulisan dan karya-karyanya, ia tidak pernah menceritakan tentang dirinya, tetapi tidak semuanya tidak dapat diketahui karena di dalam tulisannya ia selalu mencantumkan tempat dan tanggal.
Abdus Shamad Al-Palimbani adalah seorang ulama sufi kelahiran Palembang sekitar tahun 1700an, ada perbedaan pendapat mengenai tahun pasti kelahirannya, yaitu dalam Faydh al-Ihsani, “ia diperanakkan pada tahun seribu seratus lima puluh (1150) tahun daripada hijrah Nabi Muhammad saw … di dalamnya negeri Palembang” atau kalau dihitung menurut kalender Masehi bersamaan dengan tahun 1737.[1]
Sedangkan menurut Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah (1968) dan dicatat kembali oleh Prof. Azyumardi Azra, Syeikh bahwa Abdus Shamad Al-Palimbani dilahirkan pada tahun 1116H/1704M. Azyumardi Azra mengatakan: “Dari seluruh sumber yang ada, hanya Tarikh Salasilah Negeri Kedah yang memberikan angka tahun kelahiran serta kelahiran Al-Palimbani. Menurut sumber ini Al-Palimbani lahir sekitar 1116/1704 dan ayahnya adalah seorang sayyid sedangkan ibunya adalah seorang wanita Palembang.” [2] keterangan ini diperkuat pula oleh pendapat lain, bahwa dalam kitab Sairus Salikin yang ditulis pada tahun 1192H/1779M, keterangan yang ditulis dalam Salasilah Negeri Kedah itu benar.[3] Sedangkan ia wafat sekitar tahun 1203 H/1788 M. Ia adalah putera dari Abdul Jalil bin Syaikh Abdul Wahab bin Syaikh Ahmad Al-Madani dari Yaman, ayahnya adalah seorang ulama sufi di San’a, dan pernah diangkat menjadi mufti besar di negeri Kedah. Ketika berada di Palembang, Abdul Jalil menikah dengan seorang wanita bernama Radin Ranti dan dari sini lahirlah Abdul al-Shamad Al-Palimbani.[4] Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Abdus Shamad bukanlah anak dari Abdul Jalil, tetapi anak dari Abdur Rahman bin Abdul Jalil. Hal ini diperkuat oleh temuan Abdullah (1996: 8-9) bahwa dalam isnad Muhammad Yasin ‘Isa Al-Padani dan tertulis dalam Bulug Al-Amani adalah Abdus shamad bin Abdur Rahman bin Abdul Jalil Al-Palimbani, data ini juga ditemukan oleh bin Zamzam (1996), ia berpendapat bahwa ini yang lebih valid.[5]
Pada masa kecilnya ia menjadi yatim setelah ditinggal ibunya pada saat usia 1 tahun dan pada saat usianya 9 tahun ayahnya pergi mengelana ke negeri yang sejahtera, menurut Mal An Abdullah, negeri sejahtera merupakan terjemahan dari “dar al-aman”, jika demikian maka ayahnya pergi ke kedah yang pada saat itu disebut “negeri yang sejahtera / dar as-salam” namun meskipun demikian, tidak menghalangi Abdus Shamad untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan belajar yang baik dalam ilmu-ilmu agama Islam di negerinya sendiri.
 Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani hidup pada saat Kesultanan Palembang di bawah pemerintahan Sultan Badarudin I (1727-1756). Pada masa ini, Palembang berkembang menjadi pusat studi Islam yang terkenal di wilayah Nusantara, hal ini membuat ulama-ulama dari Negara timur tengah datang ke Palembang dan melakukan aktivitas kelimuwan disana sehingga melahirkan “tradisi keilmuan palimbani”. Suasana keilmuan di Palembang ini membantu dalam proses pendidikan Syekh Abdus Shamad.
Guru yang selalu dikenang oleh Syekh Abdus Shamad ialah Sayyid Hasan bin Umar Idrus, menurut studi arkeologi Mujib (1997:27) Sayyid Idrus adalah ulama keraton yang menjadi imam Sultan Badaruddin I[6]. Selain belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama, Abdus Shamad berhasil mewarisi silat beladiri keraton Palembang. Seni silat Palembang ini kemudian dikembangkan oleh cucunya Abdus Shamad II (Tuan Wok) di wilayah Pahang dan Trengganu, sehingga berubah menjadi seni silat sekebun yang menempatkan Abdus Shamad sebagai mahaguru yang pertama.[7]
Abdus Shamad melanjutkan pendidikannya ke Kedah dan Pattani (Thailand Selatan) dan kemudian melanjutkan ke Mekkah dan ke Madinah. Beberapa sumber mengatakan bahwa Abdus Shamad sempat mempelajari ajaran tasawuf Syekh Syamsuddin As-Sumatrani dan Syekh Abdur Rauf As-Singkili melalui karya-karyanya.[8] Dan di Madinah ia berguru kepada Syaikh Muhammad Samman (w. 1190H / 1776M). Abdus Shamad juga mempelajari kitab Al-Tuhfat Al-Mursalah karangan Muhammad bin Fadlullah Al-Burhanpuri (w. 1030H/1620M) kepada Syekh Abdur Rahman bin Abdul ‘Aziz Al-Maghribi atas anjuran dari gurunya Syekh Muhammad Samman Al-Madani.[9]
Selama Abdus Shamad berada di Mekkah, ia selalu berhubungan dengan jamaah haji dan penuntut-penuntut ilmu yang datang dari seluruh kepulauan Indonesia, dan dari sini ia mendapat kesan bahwa tasawuf adalah bentuk ajaran agama yang paling disenangi di Indonesia, tetapi kaum Muslimin disana sering tersesat sehingga Abdus Shamad menerjemahkan kitab-kitab Tasawuf yang dianggapnya dapat memberikan bimbingan yang benar dan efektif bagi para penggemar Tasawuf yang belum memiliki dasar pengetahuan agama Islam yang kuat.[10]
Menurut Yusuf Halidi, Al-Palimbani belajar suluk kepada gurunya Syaikh Muhammad Samman bersama-sama dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang merupakan teman akrabnya selama belajar di Mekkah dan Madinah. Menurutnya pula Al-Palimbani, Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, dan Abdur Rahman Jakarta adalah “Empat Serangkai” dari Indonesia yang sama-sama belajar di Mekkah dan Madinah pada tahun 1186H/1772M mereka pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tetapi adapula yang berpendapat bahwa Al-Palimbani tidak pulang ke Palembang setelah belajar di Mekkah karena setelah tahun 1186H/1772M ia masih berada di Hijaz, hal ini terlihat dari catatan tahunan penulisan dua buah kitabnya[11]
Selama berada di Mekkah, Al-Palimbani juga aktif mengikuti perkembangan politik kolonial Barat yang ketika itu sedang melanda negeri-negeri Islam. Melalui jamaah haji dari Indonesia, ia aktif mengikuti berita perkembangan di Nusantara, diantaranya adalah terbaginya kerajaan Mataram yang besar dan kuat menjadi dua wilayah kesultanan Yogyakarta dan kesultanan Surakarta, berita perjuangan pangeran Mangkubumi antara tahun 1749 dan 1755 Masehi yang sangat menghebohkan Belanda[12]. Al-Palimbani juga pernah mengirimkan surat dalam bahasa Arab kepada Sultan Mataram (Hamengkubowono I) dan Pangeran Singasari (Putera Amangkurat IV). Dua buah surat itu adalah surat rekomendasi untuk dua orang jamaah haji dari Jawa yaitu Haji Basarin dan Haji Mukamat Idris agar keduanya mendapat kedudukan yang baik, akan tetapi surat-surat itu jatuh ke tangan petugas Belanda di  Semarang pada tahun 1772 M. karena orang yang membawanya meninggal secara mendadak[13]
B.     Ajaran Tasawuf Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani
Menurut Al-Palimbani dengan mengutip pemikiran Al-Ghazali bahwa ada empat tingkatan tauhid.
1.      Pertama, ketika seseorang mengucapkan kalimat Syahadat, tetapi ia tidak mencerna dan menyerap makna kalimah tersebut.
2.      Kedua, tauhid orang yang meyakini sepenuhnya makna kalimah tersebut, tauhid ini disebut tauhid ushul al-din sebagaimana yang dianut Asy’ariyah dan Maturidiyah.
3.      Ketiga, seseorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat secara kasyf melalui cahaya kebenaran. Tauhid ini merupakan tauhid orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah.
4.      Keempat, tauhid seseorang yang hanya melihat satu wujud. Penyaksian ini disebut musyahadah yang merupakan kesaksian orang-orang siddiqin.
Mengenai maqamat dan ahwal, Al-Palimbani mengikuti Al-Ghazali, namun ia menambahkan dengan ungkapan-ungkapan sufi yang lainnya. Maqamat yang dimaksud adalah taubat, khouf, raja’, zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakkal, mahabbah dan ridha. Setiap maqamat tersebut mengandung tiga unsur yaitu :
1.      Ilmu / al-Ilm, ilmu menyangkut pengetahuan tentang kerusakan yang diakibatkan perbuatan dosa terutama penghalang bagi tercapainya ma’rifah.
2.      Hal, yaitu kesan-kesan yang silih berganti menyentuh hati yang mengakibatkan munculnya perasaan-perasaan seperti sedih dan penyesalan yang terbayang tatkala Allah murka dan menurunkan siksaan sebagai balasan atas dosa yang diperbuat.
3.      Amal, merupakan konsekuensi dari ilmu dan hal sehingga yang bersangkutan berusaha untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan selalu melakukan perbuatan baik untuk mendekatkan diri kepada Allaah SWT.[14]
Mengenai jiwa, Al-Palimbani juga mengikuti Al-Ghazali dengan membagi jiwa menjadi tiga bagian:
1.      Jiwa amarah, yaitu jiwa yang belum terlepaskan dari hawa nafsu, keserakahan, dan kegelapan. Apabila jiwa amarah tidak bisa melepaskan diri dari sifat egois, maka akan mudah melakukan perbuatan dosa dan tercela.
2.      Jiwa lawwamah, yaitu jiwa yang selalu menyesali keterbatasannya dalam mengabdi kepada Tuhan.
3.      Jiwa muthmainnah, yaitu jiwa yang selalu istiqomah lahir batin, baik dalam berpikir maupun dalam berbuat.
Namun kemudian, Al-Palimbani merasa tidak puas atas pemikiran Al-Ghazali mengenai tingkatan jiwa ini, Al-Palimbani lalu  menambahkan menjadi tujuh tingkatan jiwa yaitu : ammarah, lawwamah, mulhamah, muthma’innah, radliyah, mardhliyah, dan kamilah. [15]
Al-Palimbani memandang Tuhan dan alam itu dalam dua hal yang berbeda. Tuhan adalah pencipta yang kadim, sedangkan alam semesta adalah ciptaan-Nya yang baru, sama sekali tidak serupa dengan wujud diri-Nya. Al-Palimbani juga menganggap pengenalan langsung akan Tuhan (makrifah) tidak mungkin dicapai sama sekali di dunia, makrifah akan Allah itu surga di dunia ini, siapa yang masuk dia tidak akan ingat surga yang di akhirat. Makrifah itu ialah tauhid tertinggi yang dijelaskan oleh Al-Ghazali[16]
Dalam persoalan tarekat, Al-Palimbani mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Al-Palimbani mengatakan bahwa orang yang ikut tarekat ini harus mengikuti beberapa syarat seperti: bertaqwa kepada Allah, berzikir, bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan ini seumur hidup, mempunyai guru yang mengetahui jalan tersebut, mempunyai teman sehingga dapat bersama-sama menjalankan zikir dan ratib dan bisa menempuh jalur tersebut. Al-Palimbani juga mewajibkan empat hal yang harus dimiliki salik yaitu mengurangi makan, mengurangi tidur malam dan mengisinya dengan ibadah, diam menyerasikan hati dan lidahnya, hatinya selalu disibukkan dengan kalimah tauhid, duduk dengan berkhalwat dan menjauh dari pergaulan manusia, meyakini bahwa minta tolong kepada syekhnya berarti minta tolong kepada Nabi Muhammad Saw.[17]
C.     Bacaan Dzikir / Ratib Samman
Ratib ini dimulai dengan membaca :
1.      Surat Al-Mulk
2.      Surat Al-Fatihah  28 kali
3.      Surat Al-Ikhlas  100 kali
4.      Surat At-Taubah ayat 127,128 dan 129
5.      Surat As-Syura ayat 19  3 kali
6.      Ya hayyu ya qayyum 100 kali
7.      Surat Ad-Dhuha sampai surat Al-Lahab
8.      Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
9.      Surat Al-Baqarah ayat 1-7
10. Surat Al-Baqarah ayat 163, 255 dan 284-286
 Diakhiri dengan Asmaul Husna, shalawat dan doa


[1] Mal An Abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani : Biografi dan Warisan Keilmuan, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2015 hlm.13
[2] Mal An Abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani : Biografi dan Warisan Keilmuan, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2015 hlm.14

[3] Dr.M.Chatib Quzwain, Mengenal Allah (Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh ‘Abdus-Shamad Al-Palimbani Ulama Palembang Abad Ke-18 Masehi), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1985 hlm 10
[4] Dr.M.Solihin,M.Ag, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, Jakarta: Raja Grafindo Persada 2005, hlm. 92
[5] Mal An Abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani : Biografi dan Warisan Keilmuan, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2015 hlm.18
[6] Mal An Abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani : Biografi dan Warisan Keilmuan, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2015 hlm.23
[7] Mal An Abdullah, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani : Biografi dan Warisan Keilmuan, Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2015 hlm.24
[8] Tri Wibowo BS, Akulah Debu di Jalan Al-Musthofa: Jejak-Jejak Awliya Allah, Jakarta : Prenadamedia Group, 2015 hlm. 200
[9] Dr.Hj.Sri Mulyati, M.A, Tasawuf Nusantara (Rangkaian Sufi Terkemuka Edisi Revisi), Jakarta: Prenadamedia Group, hlm. 107
[10] Ensiklopedi Tasawuf I, hlm 63
[11] Dr.Hj.Sri Mulyati, M.A, Tasawuf Nusantara (Rangkaian Sufi Terkemuka Edisi Revisi), Jakarta: Prenadamedia Group, hlm. 109
[12] Dr.M.Chatib Quzwain, Mengenal Allah (Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh ‘Abdus-Shamad Al-Palimbani Ulama Palembang Abad Ke-18 Masehi), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1985 hlm 15
[13] Dr.M.Chatib Quzwain, Mengenal Allah (Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh ‘Abdus-Shamad Al-Palimbani Ulama Palembang Abad Ke-18 Masehi), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1985 hlm 16
[14] Ensiklopedi Tasawuf jilid I
[15] Dr.M.Solihin,M.Ag, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, Jakarta: Raja Grafindo Persada 2005, hlm. 101
[16] Dr.M.Chatib Quzwain, Mengenal Allah (Suatu Studi Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh ‘Abdus-Shamad Al-Palimbani Ulama Palembang Abad Ke-18 Masehi), Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1985 hlm 40

[17] Ensiklopedi Tasawuf Jilid I, hlm 65

Komentar